Oleh: Achsin El-Qudsy
fusilatnews
Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menyatakan adanya kemungkinan serangan balik dari pendukung Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjatuhkan Presiden Terpilih Prabowo Subianto. Serangan ini, menurut Amir, dilakukan dengan menunggangi aksi demonstrasi yang menolak revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI).
Amir menyebutkan bahwa salah satu pemicu utama dari serangan balik ini adalah langkah Prabowo yang dinilai melakukan “pembersihan” terhadap pihak-pihak yang dianggap dekat dengan Jokowi. Salah satu tindakan konkret Prabowo dalam hal ini adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Penertiban Kawasan Hutan, yang fokus pada pengambilalihan lahan kelapa sawit ilegal yang berada di kawasan hutan negara.
“Banyak lahan sawit milik pendukung Jokowi yang terkena kebijakan ini. Mereka tentu merasa dirugikan dan marah karena asetnya diambil alih oleh negara,” ujar Amir saat diwawancarai wartawan pada Kamis (3/4/2025).
Tak hanya itu, upaya pembersihan juga terjadi di sektor energi, khususnya di dalam tubuh Pertamina. Prabowo diduga memberikan dukungan terhadap proses hukum yang menyasar sejumlah pejabat yang terlibat dalam kasus korupsi di perusahaan minyak negara tersebut. “Upaya ini membuat jaringan lama yang memiliki kepentingan besar di Pertamina merasa terancam dan melakukan serangan balik,” tambahnya.
Amir menilai bahwa demonstrasi besar-besaran yang menolak revisi UU TNI bukanlah gerakan spontan dari kelompok pro-demokrasi atau kelompok sipil semata. Ia melihat adanya upaya sistematis untuk melemahkan posisi Prabowo sebelum ia resmi menjabat sebagai presiden.
“Demo ini dijadikan kendaraan untuk mendeligitimasi pemerintahan Prabowo yang baru terbentuk. Jika tekanan cukup besar, ada kemungkinan Prabowo kehilangan kendali politik dan bisa dijatuhkan lebih cepat,” kata Amir.
Lebih lanjut, Amir mengungkapkan bahwa gelombang demonstrasi ini bisa membuka jalan bagi Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi yang saat ini menjabat sebagai wakil presiden terpilih, untuk naik menjadi presiden lebih awal dari yang seharusnya.
“Bila Prabowo terpukul oleh isu-isu yang dimainkan dalam demo ini, maka peluang Gibran untuk naik lebih cepat sebagai presiden akan semakin besar,” jelas Amir.
Dinamika politik Indonesia semakin cepat bergerak setelah pemilu yang dimenangkan oleh pasangan Prabowo-Gibran. Berbagai manuver politik pun mulai terlihat, baik dari pendukung maupun pihak yang merasa terancam oleh perubahan yang akan terjadi.
“Demonstrasi menolak UU TNI mungkin hanya bagian dari strategi yang lebih besar untuk memengaruhi stabilitas pemerintahan Prabowo di awal masa jabatannya,” pungkas Amir. (*)
Artikel Terkait
Penghujat Pemerintah Diduga Sudah Nikmati Kekuasaan
Markus dan Marjab di Sekitaran Korupsi Minyak
Mega dan Jokowi Sulit Disatukan
KH Said Aqil Siroj: Jokowi Mempermainkan NU, Insya Allah Ada Balasannya