Sejatinya UGM Bangga Ada Alumnusnya Menjadi Presiden, Tapi...

- Kamis, 03 April 2025 | 02:25 WIB
Sejatinya UGM Bangga Ada Alumnusnya Menjadi Presiden, Tapi...


Sejatinya UGM Bangga Ada Alumnusnya Menjadi Presiden, Tapi...


Oleh: Ali Syarief

Akademisi


Universitas Gadjah Mada (UGM) adalah salah satu institusi pendidikan tertua dan paling prestisius di Indonesia. 


Sebagai universitas yang lahir dari semangat kebangsaan dan perjuangan, UGM seharusnya bangga ketika ada alumnusnya yang berhasil mencapai posisi tertinggi dalam pemerintahan, yaitu sebagai Presiden Republik Indonesia. 


Namun, alih-alih merayakan dan mengklaim kebanggaan tersebut, UGM justru sibuk dengan polemik yang meragukan keabsahan ijazah salah satu alumnusnya, Presiden Joko Widodo. 


Hal ini menjadi ironi yang sulit dicerna di tengah sejarah panjang universitas ini dalam mencetak pemimpin bangsa.


Jika kita melihat ke belakang, Institut Teknologi Bandung (ITB) memiliki dua alumnus yang pernah menjadi Presiden, yaitu Ir. Sukarno, sang proklamator dan pendiri bangsa, serta Prof. B.J. Habibie, seorang teknokrat jenius yang membawa nama Indonesia ke kancah industri dirgantara dunia. 


Begitu pula dengan Institut Pertanian Bogor (IPB) yang memiliki Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai alumnusnya. 


Ketiga universitas tersebut dengan bangga mengakui dan merayakan pencapaian alumnus mereka, tanpa kontroversi yang merusak kredibilitas akademiknya.


Sebaliknya, UGM tampaknya menghadapi situasi yang berbeda. Daripada mengumandangkan kebanggaan, universitas ini justru terjebak dalam perdebatan seputar keaslian ijazah Jokowi, yang oleh sebagian publik diyakini sebagai palsu. 


Isu ini tidak hanya berkembang di tingkat nasional, tetapi juga mendapat perhatian internasional. 


Bahkan, Jokowi disebut-sebut sebagai satu-satunya Presiden di dunia yang enggan memperlihatkan ijazah aslinya kepada publik, sebuah hal yang semakin menambah kecurigaan di masyarakat.


Sebagai institusi akademik yang menjunjung tinggi integritas dan kredibilitas, UGM seharusnya tidak hanya bereaksi secara defensif dengan mengeluarkan klarifikasi administratif yang dianggap tidak memuaskan. 


Sebaliknya, universitas ini harus bersikap transparan dan tegas dalam memberikan bukti nyata mengenai keabsahan ijazah Jokowi, agar polemik ini tidak terus menjadi duri dalam daging bagi reputasi UGM sendiri.


Lebih jauh lagi, kasus ini menjadi preseden buruk bagi dunia akademik di Indonesia. 


Jika benar ada ijazah palsu yang digunakan oleh seorang pejabat tinggi negara, hal ini bukan hanya mencoreng nama universitas yang bersangkutan, tetapi juga menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan tinggi secara keseluruhan. 


Integritas akademik harus menjadi fondasi utama dalam membangun bangsa, dan tanpa itu, gelar akademik akan kehilangan maknanya.


Dengan demikian, polemik ijazah Jokowi tidak bisa dianggap sebagai sekadar isu politik belaka. 


Ini adalah persoalan serius yang menyangkut kredibilitas lembaga pendidikan, kepercayaan publik terhadap pemerintahan, dan lebih jauh lagi, kehormatan bangsa di mata dunia. 


Sejatinya, UGM bisa berbangga jika alumnusnya menjadi Presiden, tetapi kebanggaan itu hanya akan berarti jika didukung oleh transparansi, integritas, dan kejujuran akademik.


***


Sumber: FusilatNews

Komentar