Sesederhana Meminta Menunjukkan Ijazah Asli Yang Ada di Rumahmu, Jokowi!

- Rabu, 02 April 2025 | 17:25 WIB
Sesederhana Meminta Menunjukkan Ijazah Asli Yang Ada di Rumahmu, Jokowi!


Sesederhana Meminta Menunjukkan Ijazah Asli Yang Ada di Rumahmu, Jokowi!


Oleh: Ali Syarief

Akademisi


Di tengah hiruk-pikuk politik Indonesia, ada satu pertanyaan sederhana yang terus menggema namun tak kunjung dijawab: Mengapa seorang presiden begitu sulit untuk menunjukkan ijazahnya? 


Padahal, ini hanyalah perkara administrasi dasar yang seharusnya tidak lebih sulit daripada membuka lemari di rumah dan mengeluarkan selembar kertas.


Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Ketika isu ijazah palsu mencuat, bukannya menjawab dengan transparansi, Jokowi malah membiarkan narasi ini berkembang liar, menimbulkan spekulasi, dan bahkan berujung pada bentrokan sesama anak bangsa. 


Persoalan yang semestinya selesai dalam hitungan menit, dengan menunjukkan bukti otentik, justru dijadikan drama panjang yang melelahkan. 


Mengapa? Karena kejujuran, bagi seorang pendusta, adalah harga yang terlampau mahal.


Sejarah telah mengajarkan bahwa pemimpin besar selalu menghadapi berbagai tudingan. 


Tetapi pemimpin sejati akan memilih jalan keterbukaan untuk menepis segala keraguan. 


Sayangnya, yang kita saksikan saat ini justru sebaliknya: manuver hukum, intimidasi terhadap mereka yang bertanya, dan pengalihan isu seolah-olah mempertanyakan keabsahan ijazah adalah tindakan makar. 


Seakan-akan rakyat tidak berhak mengetahui apakah pemimpinnya benar-benar memenuhi syarat dasar untuk memimpin negeri ini.


Ironi terbesar adalah bahwa kejujuran yang sederhana justru tampak begitu sulit bagi seorang yang telah lama terbiasa dengan kebohongan. 


Jika benar ijazah itu ada, mengapa tak segera ditunjukkan? 


Mengapa harus repot-repot menempuh jalur hukum untuk membungkam para penuduh? 


Bukankah lebih mudah mengakhiri polemik ini dengan satu tindakan sederhana: membuktikan kebenaran?


Kepercayaan publik adalah aset utama seorang pemimpin. Tetapi, ketika kejujuran menjadi barang langka, yang tersisa hanyalah kebohongan yang semakin besar, semakin kompleks, dan semakin sulit ditutupi. 


Sejarah mencatat bahwa kebohongan selalu memiliki umur pendek. Cepat atau lambat, kebenaran akan menemukan jalannya.


Dan bagi Jokowi, jika memang tak punya sesuatu untuk disembunyikan, tak ada alasan untuk terus bersembunyi di balik dalih politik dan hukum. 


Bangsa ini tak butuh sandiwara. Bangsa ini hanya ingin satu hal yang seharusnya sangat sederhana: kejujuran. 


Jika seorang presiden saja tidak mampu menunjukkan ijazahnya, lalu apa lagi yang bisa kita harapkan dari kepemimpinannya? ***


Sumber: FusilatNews

Komentar