Antara Overste Teddy dan Mayor Benny Moerdani

- Rabu, 26 Maret 2025 | 07:45 WIB
Antara Overste Teddy dan Mayor Benny Moerdani


'Antara Overste Teddy dan Mayor Benny Moerdani'


Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba pangkat letnan kolonel menjadi demikian membahana hari-hari ini. Sejak Orde Baru, pangkat dalam TNI yang paling diimpikan oleh segenap anggotanya, terutama bagi lulusan Akmil, adalah perwira tinggi, setidaknya menjadi brigjen. 


Rasa-rasanya tidak ada lulusan Akmil yang berangan-angan hanya sampai pangkat letkol, kecuali memang berniat pensiun dini, seperti AHY (lulusan terbaik Akmil 2000, pangkat terakhir mayor inf) dan M Iftitah Sulaiman (lulusan terbaik Akmil 1999, kini Menteri Transmigrasi, pangkat terakhir letkol kav).


Sungguh fenomena luar biasa, pangkat letkol hari ini tiba-tiba viral, mengalahkan lalu lintas pembahasan pangkat brigjen. Itu bisa terjadi karena sosok Letkol Inf Teddy Indra Wijaya (Akmil 2011), yang sedang menjadi sorotan, mengingat perjalanan kariernya yang begitu moncer. 


Selain itu tampilan fisiknya juga sangat mendukung, lebih dekat pada sosok selebritis, ketimbang sosok militer yang biasa kita bayangkan.


Mendengar nama Letkol Teddy disebut-sebut, kita seperti deja vu. Sejak awal kemerdekaan, sampai akhir dekade 1950-an, pangkat letkol sudah termasuk senior, dengan posisi setara komandan brigade atau komandan resimen, sementara sekarang cukup sebagai danyon/dandim. 


Sekadar perbandingan, dalam konteks zaman itu, AH Nasution selaku KSAD, baru saja menyandang pangkat bintang satu, dengan sebutan “jenderal mayor” (istilah brigjen belum lagi dikenal), mengikuti sistem kepangkatan militer Belanda.


Demikian juga dengan perwira berpangkat letkol, juga karena pengaruh tradisi militer Belanda (KNIL), dalam pembicaraan sehari-hari, menyebut letkol jarang sekali terjadi, lebih sering dengan sebutan overste. 


Kita bisa mengingat, salah satu figur ikonik adalah Overste Ignatius Slamet Riyadi, yang namanya diabadikan sebagai nama jalan raya yang membelah Kota Solo.


Nama perwira berpangkat letkol kembali menjadi buah bibir, saat meletusnya pemberontakan “tipis-tipis” PRRI/Permesta, pada akhir dekade 1950-an. 


Itu karena motor atau komandan pasukan pada masing-masing gerakan tersebut kebetulan berpangkat letkol, masing-masing adalah Letkol Vence Sumual (Permesta) dan Letkol Ahmad Husein (PRRI). 


Pada pertengahan dasawarsa 1960-an sempat muncul sebentar seorang letkol pula, yaitu Letkol Untung, yang kemudian namanya tenggelam dalam lipatan sejarah.


Kedekatan dengan Presiden


Fenomena seperti Letkol Teddy Indra Wijaya (selanjutnya TIW), sebenarnya tidak baru-baru amat. Di masa lalu juga ada seorang perwira menengah yang begitu dekat dengan presiden, seperti yang dialami TIW sekarang, yaitu (dengan pangkat saat itu) Mayor Benny Moerdani, yang sangat “disayang” oleh Presiden Soekarno. 


Begitu dekatnya Presiden Soekarno dengan Mayor Benny, Bung Karno sempat meminta Benny untuk menjadi pengawalnya, dengan cara menjadi salah satu Danyon pada Resimen Cakrabirawa (semacam Paspampres di masa Soekarno), namun entah kenapa, tawaran jabatan bergengsi untuk Benny tersebut, pada akhirnya tidak sempat terwujud.


Kedekatan Bung Karno dan Benny bermula pada Juni 1963, saat wajah Benny terpampang di hampir semua harian nasional, selepas Bung Karno menyematkan Bintang Sakti pada sebuah upacara di halaman Istana Merdeka, menyambut prajurit dan sukarelawan yang baru kembali dari Operasi Trikora. 


Wajah Benny mengenakan baret merah (masih dengan badge model lama), telah masuk dalam memori publik, tentu dengan segala keterbatasan teknologi media, zaman yang belum lagi mengenal platform media digital.


Setelah upacara kebesaran militer di halaman Istana Merdeka itulah, sosok Benny menjadi “viral”, dan untuk selanjutnya masuk dalam ring satu Bung Karno. 


Salah satu penanda kuatnya hubungan Bung Karno dan Benny, adalah ketika resepsi pernikahannya (1964) diselenggarakan di Istana Bogor, sebuah privilese yang langsung diberikan Bung Karno, sungguh keistimewaan bagi seorang perwira menengah seperti Benny.


Demikian juga dengan Prabowo, sebelum muncul nama TIW, ada nama perwira muda lain yang diketahui sangat dekat dengan Prabowo, baik dalam kedinasan (Kopassus) maupun secara pribadi. 


Saat menjadi Danjen Kopassus (1996-1998), Prabowo memilih Rui Fernando Palmeiras Duarte (Akmil 1993) sebagai ajudannya, yang saat itu masih perwira pertama Grup 5 Antiteror (Detasemen 81) Kopassus. 


Mirip kedekatan Prabowo dan TIW sekarang, Prabowo juga sangat dekat Rui. Sudah menjadi pengetahuan umum, Rui memang anak asuh Prabowo, yang dibawa Prabowo dari Timor Leste sejak masih belia, jauh sebelum Rui masuk Akmil.


Bila Prabowo melesat sebagai KSAD atau Pangab saat itu, tentu Rui akan terbawa terus. Sayang terjadi turbulensi politik 1998, yang mengubah segala skenario. 


Prabowo setengah dipaksa untuk mundur dari TNI (ABRI), dan tentu saja berdampak langsung pada karier Rui selanjutnya. Karier Rui sempat suram, ketika Prabowo “pensiun dini” dari TNI.


Pada sekitar tahun 2004-2008, pada masa-masa yang paling suram, Rui (dengan pangkat kapten atau mayor), sempat menjadi perwira bidang penerangan Kopassus, sebuah jabatan terbilang semenjana bagi perwira sekelas Rui. Bila dihubungkan dengan kompetensi Rui sebagai mantan perwira Detasemen 81 (Satgultor 81), artinya kualifikasi Rui adalah yang paling tinggi di Kopassus. 


Namun perginya Prabowo ternyata merupakan berkah tersendiri (blessing in disguise) bagi Rui. Rui jadi memiliki waktu mengikuti pendidikan Seskoad dan Sesko TNI, bahkan masih ditambah pendidikan lanjutan di luar negeri. 


Latar belakang pendidikan Seskoad dan Sesko TNI sangat signifikan bagi perwira TNI (khususnya Angkatan Darat), sebab tanpa pendidikan (setidaknya) Seskoad, karier perwira AD tersebut akan gelap.


Jadi ketika Prabowo menjadi Menhan, dan Rui ditarik kembali dalam lingkaran Prabowo, Rui sudah memiliki modal pendidikan yang memadai, sesuatu yang tidak (atau belum) dimiliki TIW. Sebagaimana kita tahu, kini Rui sudah masuk eselon satu di Kemenhan, sebagai Inspektur Jenderal Kemenhan dengan pangkat Letnan Jenderal. Tanpa pendidikan Seskoad dan Sesko TNI, saya tidak yakin Rui akan mencapai level seperti sekarang.


Benny Tidak Bisa Ditiru


Dalam pola karier perwira TNI, terutama bagi matra darat, posisi Seskoad sangat menentukan. Seskoad merupakan proses pendidikan untuk meningkatkan kompetensi seorang perwira. Itu sebabnya dalam tradisi di militer Indonesia, bagi perwira yang tidak pernah mengikuti Seskoad, umumnya pensiun dengan pangkat kolonel. 


eorang perwira lulusan Seskoad saja, belum ada jaminan bakal masuk strata pati, terlebih bagi yang belum pernah mengikuti Seskoad.


Benar, Seskoad memang sekolah untuk “calon jenderal”. Lebih sempurna lagi bila kemudian dilanjutkan dengan mengikuti Sesko TNI. Letkol Teddy termasuk pamen yang belum pernah mengikuti Seskoad, kendati kariernya terkesan lancar. Oleh karenanya penempatan TIW sebagai Sekretaris Kabinet, terbilang janggal, sebagaimana kebiasaan sebelumnya, nomenklatur Sekretaris Kabinet adalah untuk brigjen.


Presiden Prabowo selaku patron, sebaiknya memberi kesempatan pada TIW untuk cuti panjang, agar bisa mengikuti Seskoad. Sebagaimana pelajaran dari masa yang sudah-sudah, politik Indonesia tidak bisa diramalkan, siapa yang bisa menjamin bahwa Prabowo akan terpilih kembali untuk periode kedua (Pilpres 2029). Anggap saja ini semacam “plan B”, seandainya Prabowo pada suatu waktu tidak lagi berkuasa, dan TIW harus kembali ke TNI. 


Dengan modalitas portofolio Seskoad, kiranya karier TIW tetap bisa berjalan normal, kendati tanpa bayang-bayang Prabowo lagi.


Prabowo bisa berkaca pada dirinya sendiri, sebagai perwira pertama di generasinya (Akmil 1974) yang bisa menembus Seskoad tahun ajaran 1986, artinya hanya 12 tahun selepas Prabowo lulus Akmil, dengan pangkat mayor. Artinya dari segi waktu, TIW sebenarnya sudah bisa mengikuti Seskoad, sebagai lulusan Akmil 2011.


Situasinya yang dialami Prabowo dan TIW tidak jauh berbeda, pada masanya Prabowo juga dekat dengan kekuasaan (Orde Baru), sehingga karier militernya terbilang cepat, termasuk cepat pula dalam kesempatan mengikuti Seskoad. 


Karena masih tergolong perwira generasi baru, saat mengikuti pendidikan Seskoad (1986-1987), Prabowo sekelas dengan para seniornya, yang kelak bersama-sama pula dalam kedinasan, antara lain Sang Nyoman Suwisma (Akmil 1971, pendahulu Prabowo selaku Wadan Kopassus), Ismed Yuzairi (Akmil 1971, Kas Kostrad saat Prabowo menjabat Pangkostrad), Muchdi PR (Akmil 1970, yang menggantikan Prabowo sebagai Danjen Kopassus).


Salah satu perwira yang kemudian berkarier cemerlang, bahkan legendaris, kendati tidak pernah mengikuti Seskoad dan Sesko TNI (d/h Seskogab) adalah Jenderal Benny Moerdani. Tapi ingat, perjalanan karier Benny Moerdani sangat spesial, yang tidak bisa ditiru atau diulang oleh perwira TNI dari generasi berikutnya, termasuk TIW tentunya.


Meski sempat menjadi orang nomor satu di ABRI (TNI), perjalanan karier Benny tidak bisa dijadikan referensi bagi model pengembangan perwira. Pesannya cukup jelas, agar Overste Teddy segera masuk Seskoad, termasuk mencari peluang melanjutkan ke Sesko TNI, agar karier militernya tetap selamat. 


TIW hendaknya jangan terlalu terbuai dengan segala kemudahan hari ini. Apa yang sedang dialami TIW, dalam hemat penulis merupakan anomali, bagaimana bisa terjadi sebuah lembaga sebesar TNI, hanya sibuk mengurus seorang overste. ***


Sumber: Inilah

Komentar